Misteri ini terjadi kira-kira 15 tahun yang lalu. Tepatnya ketika aku berumur 4 tahun. Pada usia itu, aku termasuk anak kecil yang imut dan manis. Namun aku mempunyai sifat pemalu, pendiam dan sedikit tertutup kepada orang lain, bahkan kepada orang tua dan saudara-saudaraku sendiri. Aku anak ke 4 dari 6 bersaudara. Dan aku mempunyai seorang adik yang 25 bulan lebih muda dariku.
Pada suatu malam, entah kenapa aku tidak bisa tidur. Kupaksakan mataku untuk tidur, tapi tetap saja tidak bisa. Bukan karena banyak nyamuk atau yang lainnya. Aku sendiri bingung, kenapa tiba-tiba hatiku terasa gelisah, bola mataku menyorot dan memandangi sudut-sudut ruangan kamar tidur yang ketika itu masih bersama orang tua dan adik kecilku. Malam semakin larut, suasana semakin hening, dimana semua orang tertidur lelap, dan yang terdengar hanyalah detak jam; “tik…tik…tik…” aku tetap berjuang menutup mata agar bisa tidur, tapi entah kenapa bola mataku justru menyorot sebuah cermin kaca yang berukuran besar. Dan tiba-tiba cermin kaca itu bergetar, tadinya aku tidak mau menghiraukan hal itu. Tapi semakin lama getaran itu semakin kencang. Yang lebih mengejutkan lagi cermin itu bergerak kearah depan, dan dari belakang cermin itu muncul sesosok anak kecil yang mengerikan, kepalanya gundul dan tampak punya tiga helai rambut saja, matanya agak merah, kulitnya hitam serta pecah, persis seperti orang yang tubuhnya terbakar.
Aku bingung, ingin rasanya berteriak, menangis, namun untuk melakukan semua itu aku tidak mampu, ingin rasanya mengadu, tapi kepada siapa? Dengan siapa aku harus mengadu, semuanya tertidur lelap. Kulihat kembali sosok anak kecil misterius itu dengan perasaan bercampur aduk (takut, bingung, gelisah, ah…takuut). Setelah aku memandangnya, ternyata dia juga menatapku dengan matanya yang tajam dan merah itu. Setelah menatapku, dia berjalan kearahku, pelan… pelan sekali gerakannya, sedikit demi sedikit dia menghampiriku sambil tersenyum (yang menurutku mengerikan). Takuut… bulu romaku semuanya berdiri. “Mama… mama… bangun maa…” batinku berteriak. Dan aku merasakan anak kecil itu jaraknya semakin dekat denganku, disertai langkah kecilnya yang tidak menyentuh lantai sama sekali. Dilewatinya satu-persatu orang-orang disekitarku yang sedang tertidur lelap, tanpa dihiraukannya sedikitpun. Kututup kelopak mataku dengan harapan dia tidak mengganggu dan menakutiku. Beberapa menit kemudian aku merasa dia sudah tidak ada lagi di kamar tidurku, karena aku merasakan suasana hening tanpa suara aneh yang mengganggu, dan yang terdengar hanyalah detak jam “tik…tik…tik…”. Kucoba untuk membuka kelopak mataku yang tertutup rapat tadi secara pelan-pelan. Tak kusangka, ternyata wajah anak kecil misterius yang mengerikan itu sudah berada dihadapan wajahku. Aaaa….aku berteriak sekuat-kuatnya, tapi itu hanya jeritan batinku, entah kenapa aku tidak mampu mengeluarkan suara itu. Mataku terbelalak, mulutku terbuka karena terkejut, perasaanku saat itu hanya takut…takut…dan takut. Napasku terhenti secara tiba-tiba, tapi aku masih hidup saat itu. Hampir copot jantungku rasanya karena aku tidak pernah mengalami kejadian itu sebelumnya. Kulihat matanya yang agak merah itu, ternyata dia memberikan senyuman kepadaku. Aku bingung, tapi takut sambil berpikir anak kecil misterius itu sebenarnya baik atau jahat?
Untuk kedua kalinya, kututup mataku disertai perasaan yang bercampur-aduk (takut, gelisah serta perasaan lainnya). Akupun berharap secara terus-menerus didalam hati agar dia tidak ada dihadapanku lagi. Kucoba untuk membuka mataku lagi, ternyata dia sudah pergi kearah cermin kaca itu, namun kulihat cermin itu tidak bergetar dan tidak bergerak lagi, seiring lenyapnya anak kecil misterius itu kedalam cermin kaca tersebut.
Keesokan harinya, kuceritakan semua kejadian malam itu kepada ayah, tetapi beliau hanya mengatakan “ah…palingan Noura cuman mimpi”. Tapi aku yakin ayah berkata seperti itu hanya untuk menenangkanku agar aku tidak takut dengan hal-hal semacam itu.
Catatan Penulis:
Kawan-kawan semuanya, ternyata dalam kehidupan ini, tidak hanya ada kehidupan alam nyata saja, tetapi juga terdapat kehidupan alam gaib, dan kitapun harus mengimaninya. Mengimani bukan berarti justru menambah rasa takut kita kepada makhluk gaib, tetapi seharusnya menambah rasa takut dan menambah ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Karena Dia-lah yang menciptakan alam gaib beserta makhluk-makhluknya. P
Oleh: Rahmawati*
*Mahasiswi asal Kapuas, berasrama di Muqattam.
No comments:
Post a Comment