Peneliti Indonesia menemukan cara murah untuk mengawetkan sperma hewan. Teknik itu bisa dikembangkan pada ternak kambing dan sapi? Dan saat ini saya sangat bangga menjadi salah satu mahasiswa di Fakultas Peternakan UNSOED tercinta.
TEKNOLOGI pengawetan sperma hewan kini tak lagi didominasi peneliti asing. Seorang alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, Mulyoto Pangestu, 37 tahun, telah membuktikannya. Bahkan, Mulyoto menemukan teknik pengeringan dan penyimpanan sperma hewan yang jauh lebih murah ketimbang cara pengawetan selama ini. Dengan menggunakan sedotan plastik, kantong alumunium, dan gas nitrogen, biaya produksi per paket sperma dengan teknik Mulyoto ini cuma 50 sen dolar Australia atau sekitar Rp 2.000. Itulah yang mengantarkan Mulyoto, kandidat doktor di Universitas Monash, Melbourne, Australia, sebagai peraih penghargaan emas dalam ajang Young Inventors Award yang digelar majalah The Far Eastern Economic Review dan Hewlett Packard, Desember 2000. Ia mengalahkan hampir 300 peserta lainnya. Alhasil, Mulyoto memperoleh hadiah seperangkat komputer dan kesempatan mengunjungi pabrik Hewlett di Amerika Serikat. Sementara itu, Universitas Monash selaku sponsor penelitian juga menerima hadiah sebesar US$ 7.500.
Mulyoto mengaku bahwa awalnya ia tak yakin karyanya bisa menang. Lazimnya, yang menang dalam ajang bergengsi seperti itu adalah karya di bidang teknik atau komputer. Sudah begitu, karyanya pun baru dikirim pada hari terakhir lomba. "Saya seperti menang lotre," ujar Mulyoto, yang tinggal di Melbourne bersama istri dan seorang anaknya.
Sebetulnya pengawetan sperma bukanlah hal baru. Pada 1998, para peneliti di Universitas Hawaii, yang dipimpin Profesor R. Yanagimachi dan Dr. T. Wakayama, berhasil menerapkan teknik pengeringan beku (freeze drying). Metodenya, sperma dikeringkan lalu disimpan dalam gas argon. Namun, cara ini cukup mahal karena harga mesinnya sekitar US$ 15 ribu (hampir Rp 150 juta), sementara biaya produksi satu paket pengeringan US$ 500.
Rupanya, melalui penelitian sejak 1997 untuk penyusunan disertasi doktor, Mulyoto berupaya mengatasi masalah biaya besar tadi. Semula, dosen pembimbingnya, Jillian Shaw, menyarankan teknik pengeringan beku, tapi teknik ini masih memakan biaya besar. Lalu, Mulyoto melirik pompa vakum. Lagi-lagi cara ini selain mahal juga berisiko. Gas argon hanya bisa digunakan bila didukung dengan peralatan yang memadai.
Akhirnya, Mulyoto berpikir untuk memakai sedotan plastik. Caranya, sperma tikus disebarkan ke dalam sedotan, lalu nitrogen ditiupkan agar cairan sperma mengering. Sedotan lantas dirapatkan dengan perapat panas manual. Namun, setelah dicek, sedotan yang satu lapis itu masih tertembus oksigen.
Mulyoto lantas mencoba memasukkan sedotan yang sudah dirapatkan itu ke dalam sedotan lain yang lebih besar, lalu dirapatkan sekali lagi. Oksigen ternyata masih menembus juga. Ia lalu menempatkan sedotan itu dalam flying saucer, semacam stoples plastik yang biasa dipakai untuk menyimpan embrio. Efektif, memang. Tapi alat ini makan tempat, pula harganya mahal, sampai US$ 500 per buah.
Mulyoto tak putus asa. Ia mencoba melapisi sedotan dengan kantong aluminium yang diisi nitrogen, lalu dirapatkan. Ternyata sperma tikus yang disimpannya awet sampai berbulan-bulan. Peristiwa ini terjadi sekitar Desember 1999. Cara itu diulang terus sampai Mei 2000. Sperma yang pertama diawetkan lalu ditransfer ke induk. Hasilnya, bayi tikus pertama lahir pada 1 Juli 2000. Sampai sekarang sudah ada sekitar 15 kelahiran. Mulyoto menyebut bahwa sperma yang dikeringkan itu secara fisiologis "mati", tapi DNA yang ada di sperma itu tidak rusak.
Sayang, teknik Mulyoto yang manual itu menghasilkan daya hidup sperma cuma 30 persen. Rupanya, sebagian besar sperma mati ataupun pecah sewaktu ditransfer ke induk. Kini penemuan Mulyoto dilanjutkan oleh seorang rekannya, yang sudah mampu meningkatkan daya hidup sperma menjadi 70 persen.
Tentu teknik Mulyoto ini amat berarti bagi perkembangan teknologi pengawetan bahan biologis di ruang berudara biasa. Apalagi sedotan plastik relatif murah dan bisa dibawa dalam kotak kecil. Teknik itu pun cuma membutuhkan alat pendukung seperti tangki gas?dapat dipakai untuk 1.700 sedotan?serta mesin perekat. Cara itu jauh lebih praktis ketimbang penggunaan lemari nitrogen, yang besar, berat, dan berisiko tinggi. Kini tinggal mengembangkan teknik itu untuk reproduksi kambing dan sapi, sebagai hewan yang banyak diusahakan peternak Indonesia. Mungkinkah?
Mulyoto mengaku bahwa awalnya ia tak yakin karyanya bisa menang. Lazimnya, yang menang dalam ajang bergengsi seperti itu adalah karya di bidang teknik atau komputer. Sudah begitu, karyanya pun baru dikirim pada hari terakhir lomba. "Saya seperti menang lotre," ujar Mulyoto, yang tinggal di Melbourne bersama istri dan seorang anaknya.
Sebetulnya pengawetan sperma bukanlah hal baru. Pada 1998, para peneliti di Universitas Hawaii, yang dipimpin Profesor R. Yanagimachi dan Dr. T. Wakayama, berhasil menerapkan teknik pengeringan beku (freeze drying). Metodenya, sperma dikeringkan lalu disimpan dalam gas argon. Namun, cara ini cukup mahal karena harga mesinnya sekitar US$ 15 ribu (hampir Rp 150 juta), sementara biaya produksi satu paket pengeringan US$ 500.
Rupanya, melalui penelitian sejak 1997 untuk penyusunan disertasi doktor, Mulyoto berupaya mengatasi masalah biaya besar tadi. Semula, dosen pembimbingnya, Jillian Shaw, menyarankan teknik pengeringan beku, tapi teknik ini masih memakan biaya besar. Lalu, Mulyoto melirik pompa vakum. Lagi-lagi cara ini selain mahal juga berisiko. Gas argon hanya bisa digunakan bila didukung dengan peralatan yang memadai.
Akhirnya, Mulyoto berpikir untuk memakai sedotan plastik. Caranya, sperma tikus disebarkan ke dalam sedotan, lalu nitrogen ditiupkan agar cairan sperma mengering. Sedotan lantas dirapatkan dengan perapat panas manual. Namun, setelah dicek, sedotan yang satu lapis itu masih tertembus oksigen.
Mulyoto lantas mencoba memasukkan sedotan yang sudah dirapatkan itu ke dalam sedotan lain yang lebih besar, lalu dirapatkan sekali lagi. Oksigen ternyata masih menembus juga. Ia lalu menempatkan sedotan itu dalam flying saucer, semacam stoples plastik yang biasa dipakai untuk menyimpan embrio. Efektif, memang. Tapi alat ini makan tempat, pula harganya mahal, sampai US$ 500 per buah.
Mulyoto tak putus asa. Ia mencoba melapisi sedotan dengan kantong aluminium yang diisi nitrogen, lalu dirapatkan. Ternyata sperma tikus yang disimpannya awet sampai berbulan-bulan. Peristiwa ini terjadi sekitar Desember 1999. Cara itu diulang terus sampai Mei 2000. Sperma yang pertama diawetkan lalu ditransfer ke induk. Hasilnya, bayi tikus pertama lahir pada 1 Juli 2000. Sampai sekarang sudah ada sekitar 15 kelahiran. Mulyoto menyebut bahwa sperma yang dikeringkan itu secara fisiologis "mati", tapi DNA yang ada di sperma itu tidak rusak.
Sayang, teknik Mulyoto yang manual itu menghasilkan daya hidup sperma cuma 30 persen. Rupanya, sebagian besar sperma mati ataupun pecah sewaktu ditransfer ke induk. Kini penemuan Mulyoto dilanjutkan oleh seorang rekannya, yang sudah mampu meningkatkan daya hidup sperma menjadi 70 persen.
Tentu teknik Mulyoto ini amat berarti bagi perkembangan teknologi pengawetan bahan biologis di ruang berudara biasa. Apalagi sedotan plastik relatif murah dan bisa dibawa dalam kotak kecil. Teknik itu pun cuma membutuhkan alat pendukung seperti tangki gas?dapat dipakai untuk 1.700 sedotan?serta mesin perekat. Cara itu jauh lebih praktis ketimbang penggunaan lemari nitrogen, yang besar, berat, dan berisiko tinggi. Kini tinggal mengembangkan teknik itu untuk reproduksi kambing dan sapi, sebagai hewan yang banyak diusahakan peternak Indonesia. Mungkinkah?
No comments:
Post a Comment