GSM (Global System for Mobile) dalah jaringan selular yang paling banyak digunakan saat ini. GSM adalah telepon selular digital pertama setelah era analog. Sedangkan CDMA (Code Division Mobile Access) merupakan suatu jaringan menggunakan teknologi spread-spectrum untuk mengedarkan sinyal informasi yang melalui bandwith yang lebar (1,25 MHz). Teknologi ini asalnya dibuat untuk kepentingan militer, menggunakan kode digital yang unik, lebih baik daripada channel atau frekuensi RF (Radio-Frequency) (Fauzan, 2008).
Paparan energi RF tergantung pada frekuensi telepon seluler yang digunakan. Banyak ponsel GSM bekerja pada frekuensi 900-1900 MHz, biasanya ponsel ini bekerja pada frekuensi 850-1800 MHz. Semakin besar frekuensi, semakin besar pula energi yang dibawa. Energi radiasi diserap ke dalam tubuh manusia melalui 3 mekanisme : (i) pengaruh udara : tubuh menerima dan menyerap sinyal RF tergantung pada ukuran tubuh dan panjang gelombang sinyal; (ii) berpasangannya sinyal RF dengan jaringan tubuh; dan (iii) adsorbsi resonansi (D’Andrea et al., 1985). Jumlah dari energi RF yang diserap dari telepon ke dalam jaringan lokal, disebut specific absorption rate (SAR), suatu nilai kuantitas yang paling berguna dalam uji paparan dari transmiter yang terletak dekat dengan tubuh. Nilai SAR dari ponsel bervariasi dari 0,12 hingga 1,6 watt/kg berat badan tergantung pada model (Federal Communications Commission, 1999).
Motilitas Spermatozoa Mencit (Mus musculus).
Spermatozoa merupakan sel yang senantiasa bergerak. Pergerakannya ini dibutuhkan untuk berbagai keperluan, seperti mendekati kumpulan ser sertoli untuk memperoleh nutrisi, serta bergerak dalam saluran genital betina dalam rangka menuju sel telur saat peristiwa fertilisasi. Sperm motil mempunyai beberapa bagian yaitu kepala dengan akrosom yang mengandung enzim hialuronidase untuk penetrasi ke dalam ovum, bagian tengah berisi mitokondria penghasil energi untuk bergerak dan ekor yang mempunyai flagel serta komponen utama : rangka pusat dengan mikrotubulus, membrane sel tipis dan sekelompok mitokondria pada bagian proksimal. Gerakan mendekat dan menjauh memberikan mobilitas pada sperma gerakan ini disebabkan gerak meluncur longitudinal dalam tubulus posterior dan anterior (Schottelus, 1973).
Alat gerak sperma terletak pada bagian ekor spermatozoa yang disusun oleh aksonema, pada spermatozoa mempunyai struktur flagella atau silia. Aksonema terdiri atas sepasang mikrotubulus sentral (mikrotubulus singlet) dikelilingi oleh pasang mikrotubulus duplet disebelah luarnya (Una dan Sri Agus, 2005).
Ciri utama spermatozoa yang dijadikan patokan atau cara yang paling sederhana untuk dijadikan penilaian adalah daya geraknya (motilitas ). Abnormalitas sekunder meliputi kelainan ekor terputus, tanpa ekor, bagian tengah yang melipat. Ekor sperma mengandung semua sarana yang perlu untuk motilitas dari ekor yang telah terpisah dari kepala sperma dapat bergerak seperti sediakala. Pada mencit, kecepatan gerak normalnya adalah 3-3,5 mm/menit (Wetson, 1994).
Pengaruh Radiasi Ponsel pada Motilitas Spermatozoa mencit (Mus musculus)
Davoudi et al. (2002), dalam sebuah penelitian prospektif kecil yang melibatkan 13 pria dengan analisis semen yang normal, juga ditemukan bahwa penggunaan telepon GSM selama 6 jam selama 5 hari menurunkan kecepatan pergerakan (motilitas) spermatozoa.
Masih sama, Erogul et al. (2006) menemukan penurunan motilitas sperma dalam sampel semen dari 27 pria yang terpapar dengan gelombang ponsel 900 MHz selama 5 menit. Dalam penelitian mutakhir, menaruh ponsel terlalu dekat dengan pinggang diketahui menurunkan konsentrasi sperma dibandingkan dengan pria yang tidak menggunakan ponsel sama sekali atau menaruh di tempat yang lain (Kilgallon and Simmons, 2005).
Pada intensitas tinggi, radiasi RF bersifat menimbulkan panas. Peningkatan pada suhu jaringan atau suhu tubuh pada paparan gelombang elektromagnetik (EMW=Electromagnetics Wave) dapat menyebabkan kekacauan pada spermatogenesis (Kandeel and Swerdloff, 1988; Saunders et al., 1991; Jung and Schill, 2000).
EMW juga dapat mempengaruhi fungsi reproduktif melalui efek spesifik EMW (efek ‘mikrowave’ yang dihasilkan oleh peningkatan suhu jaringan lebih kecil daripada fluktuasi suhu normalnya) atau kombinasinya dengan efek thermal molekuler (Blackwell, 1979).
Wang et al. (2003) meyakini dari hasil penelitian mereka pada mencit, bahwa sel-sel Leydig berada di antara sel-sel yang paling peka terhadap EMW dan perlukaan pada sel-sel ini bisa mempengaruhi spermatogenesis. Dasdag et al. (1999, 2003) menemukan adanya penurunan pada mean (rata-rata) diameter tubulus seminiferus tikus dengan memaparinya dengan ponsel frekuensi 890-915 MHz, 3 menit setiap hari selama 30 hari, tetapi mereka tidak mendapat hasil yang sama pada penelitian lanjutannya. Ozguner et al. (2005) mendemonstrasikan adanya penuruan diameter tubulus seminiferus dan ketebalan epithelium setelah diberiperlakuan pada generator frekuensi radio pada 869-894 MHz. Tetapi studi mutakhir oleh Ribeiro et al. (2007) tidak dapat menemukan efek buruk dari ponsel (1835-1850 MHz) pada testis tikus. De Seze et al. (1999) meneliti perubahan pada konsentrasi hormon pituitari anterior termasuk FSH dan LH pada 21 sukarelawan kesehatan setelah dipapari radiasi RF ponsel 900 MHz selama 2 jam sehari, 5 hari seminggu selama 1 bulan dan tidak ditemukan efek apapun. Tetapi, durasi paparan radiasi RF pada penelitian mereka belum cukup menghasilkan efek yang signifikan.
DAFTAR PUSTAKA
D’Andrea JA, Emmerson RY, Bailey CM et al. 1985. “Microwave radiation absorption in the rat: frequency-dependent SAR distribution in body and tail”. Bioelectromagnetics 6, 199-206
Dasdag S, Zulkuf Akdag M, Aksen F et al. 2003 Whole body exposure of rats to microwaves emitted from a cell phone does not affect the testes. Bioelectromagnetics 24, 182-188
Davoudi M, Brossner C, Kuber W 2002 The influence of electromagnetic waves on sperm motility. Journal für Urologie und Urogynäkologie 19, 18-22.
de Seze R, Ayoub J, Peray P et al. 1999 Evaluation in humans of the effects of radiocellular telephones on the circadian patterns of melatonin secretion, a chronobiological rhythm marker. Journal of Pineal Research 27, 237-242.
Fauzan, Mohamad Firda. 2008. “STUDI DAN PERBANDINGAN KEAMANAN GSM DAN CDMA” makalah prodi TI. Bandung : ITB
Federal Communications Commission 1999 News Release: Safety guidelines for hand held cellular telephones. Federal Communications Commission. http://www.fcc.gov/Bureaus/Wireless/News_Releases/1999/nrwl9044.html
Fejes I, Zavaczki Z, Szollosi J et al. 2005 Is there a relationship between cell phone use and semen quality? Archives of Andrology 51, 385-393.
Ozguner M, Koyu A, Cesur G et al. 2005 Biological and morphological effects on the reproductive organ of rats after exposure to electromagnetic field. Saudi Medical Journal 26, 405-410.
Ribeiro EP, Rhoden EL, Horn MM et al. 2007 Effects of subchronic exposure to radio frequency from a conventional cellular telephone on testicular function in adult rats. Journal of Urology 177, 395-399.
Wang SM, Wang DW, Peng RY et al. 2003 [Effect of electromagnetic pulse irradiation on structure and function of Leydig cells in mice]. Zhonghua Nan Ke Xue 9, 327-330.
No comments:
Post a Comment